Rabu, 26 Desember 2007

Berkhayal untuk Pemilu yang demokratis

Berkhayal untuk Pemilu yang demokratis.

Mungkin ngak ya .. Setiap Pemilihan Umum dilakukan benar benar bebas. Bebas yg paling penting adalah bebas untuk memilih siapa yang hendak di pilih. Saat ini yang ada dimana mana kita memilih orang yang hendak di pilih. Yang ada adalah; orang kaya yang kebanyakan duit dan tinggal cari hobby/status baru sebagai pemimpin, orang yang berambisi menjadi pemimpin dan berkampanye agar dipilih, dan orang yang di plot untuk maksud tertentu dan mengamankan kepentingan tertentu. Jarang seorang pemimpin murni yang tetap murni setelah keluar dari ajang kampanye. Biasanya karena dituntut untuk memperoleh dana kampanye yang besar, oarang tersebut rela membuang ke murnian-nya untuk di sokong oleh orang kaya yang punya niat tersendiri.

Pengalaman berbicara bagaimana almarhum Cak Nurcholis Madjid ketika hendak maju sebagai calon Presiden namun tidak memiliki dana dan kendaraan. Maklum. Orang ‘lempeng’ malah jarang yang mau support. Di sisi lain tokoh Amien Rais, yang tadinya tokoh lurus berubah menjadi tokoh yang di tebengi banyak kepentingan.

Problem orang lurus / murni biasanya tidak ingin menonjolkan diri sebagai orang lurus / murni. Masyarakatlah yang dapat menilai kelurusan dan kemurniannya. Sehingga bayangkan bagaimana orang yang tdk ingin menonjol tersebut harus menonjolkan diri dengan berjualan kecap…

Mungkin kalau pemilu dirubah dimana pada putaran pertama setiap pemilih berhak untuk memilih siapa saja yang mereka yakini mampu sebagai pemimpin mereka. Diputaran kedua baru 2 besar pemimimpin yang memperoleh pilihan paling besar (2 dari begitu banyak pilihan masyarakat yang muncul) dipilih lagi layaknya pemilu saat ini langsung hanya dengan 1x putaran. Hasil yang diperoleh akan lebih demokratis. Sistem ini menjamin tidak akan ada Golongan Putih (Golput) pada putaran pertama. Yang Golput artinya memang orang apatis yang dirinya sendiri dianggap tidak layak sebagai pemimpin. Saya rasa metoda ini layak dipertimbangkan walaupun kendala-kendalanya juga makin berlipat. Adapun kendala-kendalanya meliputi:

-----Setiap orang harus memiliki nomor yang uniq sehingga setiap masyarakat yang hendak memilih tidak akan salah memilih karena nomor tersebut yang harus mereka cantumkan. Nomor uniq tersebut harus systematis tersusun seperti nomor KTP atau Wajip Pajak sehingga hanya ada satu nomor di seluruh Indonesia. Padahal kita tahu saat ini belum ada nomor KTP dan wajib pajak yang uniq di Indonesia. Banyak yg punya KTP double, atau bahkan orang dewasa yang tidak mempunyai nomor wajip pajak.

S---Setiap masyarakat dengan gampangnya mencari nomor uniq tersebut atas nama seseorang yang dia kagumi. Nomor tersebut mungkin dapat di taruh di suatu website yang khusus meng-guide pencarian nomor uniq tsb atas nama, alamat, tanggal lahir, profesi dll dari seseorang. Kendalanya adalah system ini bisa disalah gunakan. Orang bisa mendapatkan alamat seseorang dari system ini. Mungkin harus dirancang output nya hanya berupa nomor uniq tsb. Alamat, nama dan lain lain hanya keyword / keysentence untuk mencari saja. Kendala lainnya tidak semua orang di Indonesia yang melek internet.

Namun keuntungan yang dihasilkan dari sistem ini pemilihnya pun harus mencantumkan nomor uniq nya sendiri. Sehingga proses filter atas suara ganda dapat diatasi.

-----System perhitungan mau ngak mau harus melibatkan komputer dengan memory yang besar. Bayangkan pilihan akan bisa mencapai ribuan bahkan mungkin jutaan orang dan yang terpilih hanya 2 besar. Tidak mungkin melibatkan perhitungan manual. Artinya setiap masyarakat / system Pemilu HARUS menerima system perhitungan komputer sebagai metoda resmi yang diakui.

-----Proses perhitungan yang kompleks. Perhitungan bisa dilakukan penyederhanaan dengan memfilter 2 nama terbesar setiap kabupaten / provinsi yang berhak maju ke perhitungan nasional. Dipilih 2 nama karena mungkin saja ke dua pilihan kandidat putaran kedua nasional semuanya dari daerah tersebut.

P---Pemerataan informasi dan sosialisasi metoda ini yang harus sampai menyentuh masyarakat terpencil sekalipun.

-----Dan lain-lain.

Akhir kata ini hanyalah khayalan. Namun saya merasa, tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting itikat kita untuk selalu mencari kesempurnaan dan perbaikan dari kondisi saat ini. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.