Berhubung moment nya pas nih.. Aku ada pertanyaan utk kita diskusikan.
Kakekku (H.A. Bastari), mantan Gubernur Sumatera Selatan dan Kapolda Jawa Tengah jaman Pak Karno. Beliau menolak di makamkan di Makam Pahlawan krn menurut dia Istrinyalah (Nenek saya) yg seharusnya diberi Bintang Gerilya karena harus menanggung menghidupi satu keluarga minus lelaki di tengah hutan di pedalaman Sumatera Selatan waktu jaman revolusi krn sang kakek sibuk bergerilya dan tdk boleh tertangkap agar tdk menjadi umpan agar kakek menyerahkan diri.
Disisi lain, Ayahku kan Mayor Jendral Purn. Masuk militer ketika sudah merdeka. Sudah dipastikan kalau meninggal dapat jatah di Taman makam Pahlawan Kalibata. Tapi kayaknya beliau menolak dan memesan tempat yg sama di TPU Karet agar bisa bersama dgn ibu (walaupun belum meninggal, Ibu sudah mesen duluan kavling di Karet).
Setelah saya lihat lihat, kok kesannya militer itu lebih gampang masuk Taman Makam Pahlawan atau diindentikkan dgn pahlawan. Kayaknya saat ini hampir semua Jendral kalau meninggal pasti bisa dimakamkan di Kalibata. Bagaimanapun cara meninggalnya. Bagaimana dgn peran sipil donk. Apakah mereka tdk punya tempat agar disebut pahlawan.?..
Itu tercermin di perilaku kita. Kl anak kita di sekolah disuruh memaakai pakaian pahlawan karena di sekolahnya akan ada peringatan hari pahlawan, rata rata mereka akan berpakaian ala Tentara. Atau minimal Abang Jampang..
Bagaimana dgn seorang ibu pendiri pabrik obat Dexa yang saat ini distribusinya sudah sampai Afrika, Bagaimana dgn upaya Jacobus Busono yang mengembangkan Pura Group sehingga sangat unggul di dunia security paper dan Holografy, Bagaimana dgn usaha pionir perintis jaringan transportasi ALS yang menghubungkan Sumatera - Jawa?.. dan banyak yang lainnya.. Apakah sedikit ruang untuk mereka untuk bisa disebut pahlawan?..
Dandi Z. Sjechlad
cucu pahlawan
anak pahlawan
pahlawan... (khsusus utk anak dan istriku...InsyaAllah)...
Minggu, 09 November 2008
Langganan:
Komentar (Atom)