Jumat, 06 Februari 2009

Berkhayal Bangsa Ini memakai Hati

Hari ini saya baca di Kompas, pengurus PAN bidang buruh berujar untuk segera HAPUS konsep kontrak dan outsourching utk buruh se Indonesia. Artinya semua buruh harus diangkat menjadi pegawai dan pengusaha tdk bisa sembarangan memutus hubungan sepihak. Apakah mereka tdk menempatkan pengusaha juga sebagai stakeholder suatu proses bisnis?. Seolah olah hanya kepentingan buruh saja yg menjadi tujuan utama. Giliran resesi, pengusaha harus ketimpa sial dua kali dgn memberi pesangon seluruh buruh yg di PHK. Apakah hal ini bukannya membuat iklim berinvestasi yang negative?. Suatu perkembangan ekonomi tdk dibangun dalam sekejab. Semua harus berinvestasi diawal termasuk buruh dlm bentuk tenaga. Setelah bisnis lancar, baru keterlaluan kalau hanya pengusaha yg ingin menikmatinya. Atau ini hanya bungkusan agar populasi buruh senang, sehingga akan mencoblos PAN?

Kemarin saya baca ada wacana anggota DPR utk minta di bekali Pistol agar tdk menjadi korban ke dua demo anarkis seperi yg dialami Ketua DPRD SumUt. Padahal yang harus dilihat adalah mekanisme control dan pengawasan jajaran Kepolisian dalam mengawal suatu demonstrasi. Kalau di bekali Pistol, akan muncul lagi peluang ketidak mampuan control & pengawasan penggunaan senjata nya. Pengawasan & control yg ada saja tdk jalan malah menambah item pengawasan. Ataukah ini wacana pribadi agar akhirnya mereka yg wakil rakyat semi preman punya tambahan kekuatan utk menekan?

Sebelumnya lagi saya baca MUI mengeluarkan fatwa HARAM utk GolPUT. Golongan yg tdk mencoblos di Pemilu dikarenakan factor disengaja. Apakah MUI bisa memastikan hukuman Haram tersebut berjalan sehingga menempatkan Allah sebagai suruhan MUI untuk menghukum kaum GolPut?. Apakah MUI bisa memastikan saya akan masuk penjara apabila GolPut?. Hanya Allah yg tahu apakah kita layak masuk surga atau neraka. Sadarkah MUI bahwa mereka juga belum dijamin masuk Surga?. Namanya juga hak utk memilih. Artinya hak saya juga untuk tdk memakai hak saya tersebut. Ataukah ini wacana MUI agar dirangkul atau dekat dengan golongan tertentu?

Demi Demokrasi KARSA dan KAJI ribut soal kecurangan Pemilu. Dengan bangga berhasil mengupayakan Pemilu ulang yg menghabiskan duit rakyat. Itupun tetap tdk puas. Seolah2 duit yg dikumpulkan termasuk dari pajak2 kita bebas utk di hamburkan di tengah rakyat yg banyak bunuh diri karena tdk mampu menghadapi kerasnya hidup ini.

Sedih saya melihat perkembangan kita. Mau kemana Indonesia ini. Semua orang merasa berhak memposisikan diri sebagai Architect pembangunan Indonesia tanpa ada penyamaan bahasa antara para Architect tersebut. Merasa ahli sendirian, namun konsep yg di lempar semuanya hanya jangka pendek dan kulitnya saja.

Teringat apabila kita membangun suatu gedung. Setiap detail bangunan ada architect nya yg merancang detail bagian-bagian tersebut. Namun hal ini baru bisa berjalan setelah Blue Print Master pengembangan utamanyanya jadi dahulu. Jadi harus ada Master Architect nya. Tidak mungkin di Blue Print tersebut disebutkan saluran air utk Kloset dari sisi sebelah mana .

Ada yg bilang dengan demokrasi, kita ikuti saja kemana maunya mayoritas rakyat akan membawa Negara ini. Ini seperti konsep ikuti saja arah air mengalir dari sumber air sampai menuju laut. Kalau pendapat saya hal tsb diatas cocok untuk binatang , bukan manusia.

Migrasi burung yg mencari kehangatan, migrasi wildebeest di Africa yg mencari air, Ikan hias laut jenis Keling yg kalau malam hari masuk kedalam pasir, Mengapa ular tahu mana kodok yg bisa dimakan mana yang beracun dll., hidup dgn mengikuti pola alam. Manusia itu berbeda. Manusia punya kemampuan menganalisa sehingga dapat menghasilkan suatu proses penyederhanaan dalam mencapai tujuan lebih cepat.

Kita bangga di puji sebagai Negara demokrasi utuh. Malah hari ini disebut sebagai Negara demokrasi besar. Kalau istilah ABG nya ‘So What!!’. Ibarat seorang turunan bangsawan dengan gelar raden namun miskin dan malas. Bangga dengan masa lalu atau status namun kosong.

Semua demi demokrasi. Minggu lalu staff kami mengusulkan ikut tender kotak suara. Terus saya bertanya, kemana kotak suara 5 tahun yang lalu yg sengaja dibuat dari Aluminium sehingga kuat utk dipakai di pemilu 5 tahun kemudian. Dijawab staff saya “ mungkin di rusak pak biar panitya yg baru tetap dapat rezeki”.

Saya rasa kunci tulisan saya adalah ‘HATI’. Apakah kita telah cukup memakai Hati untuk berkehidupan saat ini?. Apakah kita sudah memakai ‘Hati’ untuk membangun bangsa ini?. Dari Hati kita kemudian kita telurkan ‘Kesamaan Tujuan’. Dengan Hati pula, dlm memandang Kesamaan Tujuan tersebut kita akan merancang Blue Print bersama untuk tujuan kita bersama.

Namun kayaknya saya lagi berkhayal. Saya yakin berkhayal karena tidak mungkin akibat tulisan ini bangsa ini tergugah utk memakai Hati.

Kamis, 05 Februari 2009

Gitu Aja Kok Repot

Meminjam istilah Gus Dur “Gitu Aja Kok Repot” begitulah kalau kita melihat pemerintah Indonesia bingung mengkontrol tingkat korupsi di Indonesia.
Saya punya resep untuk itu. Cepat, ringkas dan mudah di ukur.

1. (Gitu Aja Kok Repot 1) Setiap pejabat Negara diambil sumpahnya dan siap di audit bahwa beliau ketika nanti mengakhiri jabatannya, kekayaannya tidak boleh lebih dari kekayaannya sebelum dilantik plus/ditambah kumulatif gaji beliau selama menjabat. Kalau dipikir metoda ini, pasti nilai tersebut lebih tinggi dari kenyataannya karena metoda tsb sudah tidak membebankan biaya hidup dan lain lain dari pejabat tersebut.

2. (Gitu Aja Kok Repot 2). Setiap anak, menantu, adik, kakak dan Orang Tua pejabat tersebut HARAM hukumnya berbisnis dengan pemerintah selama beliau menjabat. Usia produktif seseorang kan bisa mencapai 40 tahun apabila mulai berbisnis di usia 20 tahun dan pensiun di usia 60 tahun. Apabila seseorang keluarganya menjabat selama 5 tahun, kan hanya 1/8 dari masa produktif tersebut. Toh hanya berbisnis dengan pemerintah yang dilarang..

Sekali lagi.. Gitu Aja Kok Repot.

Terima Kasih Ayah yang Telah Memberi Kami Makanan yg Halal Selama ini

Hari ini aku teringat kepada ayah ku. Seorang Mayor Jenderal (Purn.) lurus yg tidak mau mengerti seberapa kompleksnya dunia ini. Dari kecil sampai saya bisa punya penghasilan sendiri, kita tdk pernah hidup mewah namun juga tdk pernah hidup berkesusahan. Prinsip ayah salah satunya adalah “Tidak Pernah Meminta”. Rejeki adalah buah dari apa yang telah kita lakukan. Pernah suatu saat di kota Medan, setelah bercerita ke seseorang disana bahwa ayah seorang Mayor Jenderal (Purn.), ayah diledekin orang tersebut dengan julukan “Jenderal Bodoh” karena orang tersebut tdk melihat kemewahan menempel di sekitar Ayah.

Namun AlhamduliLah kami di beri Kemudahan oleh yg diAtas sehingga dari kami sekeluarga, abang-abang saya dan saya sendiri dapat kesempatan bersekolah di ITB melalui jalur standar dan bahkan Lebih tinggi tanpa Ayah harus menggadaikan harga dirinya.

Lanjutan dari kasus kemaren soal kecelakaan saya dgn seorang anggota mabuk, setelah berdamai, saya tidak habis pikir mengapa motor saya harus diurus di DenPOM. Polisi hanya menyurati saya bahwa kasus telah dilimpahkan ke DenPOM. Ketika diurus, untuk mengeluarkan motor, staff saya harus merogoh Rp. 100,000,-. Sedangkan STNK dan SIM saya harus diambil di kota lain tempat DenPOM tersebut berada. Disana, tanpa malu, staff saya diminta dana Rp. 1,000,000,- untuk bertukar nilai sebuah SIM dan STNK. Karena tdk ada dana, akhirnya disetujui Rp. 200,000 dgn kata kata nanti dia kapan kapan akan main ke kantor.

Lucu bagi saya. Perasaan saya HANYA polisi yg punya hak menahan SIM dan STNK. Kasihan ‘anak-anak’nya ya di kasih makan dari duit Haram. Semoga men jadi daging makanannya tersebut. Walaupun dulu selepas ITB saya sempat punya penyakit iri melihat mudahnya sepupu dan teman teman sekitar saya melanjutkan sekolah ke luar negeri, namun posisi saya apabila dibandingkan ‘anak-anak’ tersebut terasa sangat beruntung. Beruntung karena InsyaAllah ketiga anak saya dilahirkan dari perpaduan daging yang halal. (InsyaAllah saya yakin kualitas mertua saya).

Pelajaran yang saya dapatkan hari ini, “Ya Allah, mohon jaga mata, dan hati saya dari godaan syaitan agar keturunan kami dapat tumbuh dengan bekal yang halal dan mampu menjunjung tinggi nilai yang di tanamkan oleh Ayah saya…. Ya Allah lindungilah kedua orang tua kami seperti mereka melindungi kami dari godaan dunia yang silau..

Terima kasih Papa…

Rabu, 04 Februari 2009

Negara Militer kah Indonesia

Kejadian ini kebetulan menimpa saya. Saat mau pulang magrib tgl 26 januari 2009, saya ditabrak 'anggota' mabuk yg menggonceng wanita bukan istrinya yg entah mau berbuat apa. Beliau menyabot jalur saya hendak menyalib mobil di depan saya namun tdk mampu sehingga menabrak saya yg sedang jalan normal di jalurnya. Terjadilah tabrakan hebat. Alhamdullilah Allah sayang saya sehingga saya secara fisik tdk apa apa, begitu juga motor saya..

Namun lawan tabrakan saya kondisinya tdk seberuntung saya. Beliau beserta wanita yg dibonceng nya Patah kaki yg sangat serius. Akibat kantor tempat saya bekerja sangat menaruh hormat dan menjaga hubungan baik dengan Institusi tempat beliau bekerja, maka pendekatan damai lah yg di kedepankan.

Akibat tuntutan dari keluarga pihak wanita, beliau sekeluarga mengaku kehabisan dana dan tdk sanggup menutupi biaya rumah sakit untuk kemudian pindah ke rumah sakit militer. Sehingga akhirnya kami dengan ikhlas menutupi kekukarangan biayanya yang lumayan terasa besarnya.

Namun lucunya kasus tabrakan ini dengan polisi di pindahkan ke DenPom Militer karena beliau adalah anggota. Syukur kata sepakat damai sudah keluar. Namun apabila saya ngotot meneruskan kasus ini ke meja hijau, alangkah kikuknya saya harus menuntut seseorang di dalam rumahnya yg isinya adalah anggota semua. Sedangkan saya orang Sipil.

Bagaimana hak saya ya sebagai orang sipil yg ingin di adili secara sipil. Hanya gara gara lawan adalah militer, segala urusan harus diselesaikan secara militer. Kalau kasus pemberontakan sih saya masuk akal. Bagaimana kalau seorang anggota maling kambing warga?.. Apakah pemilik kambing akhirnya harus lapor ke kesatuan anggota?..Bagaimana kalau anggota melecehkan wanita minoritas?.. Apakah wanita tsb akan dijamin hak hak nya..

Saya sebagai orang yg tdk mengenal hukum mungkin tidak tahu payung sesungguhnya.. Mohon kalau ada kawan yg mengetahui produk hukumnya tsb. Atau jangan jangan memang ini rasa terpendam dari kaum sipil di Indonesia. Kalau hal terakhir ini benar, alangkah enak jadi warga kelas satu ya..

Salam

Penjahat