Jumat, 06 Februari 2009

Berkhayal Bangsa Ini memakai Hati

Hari ini saya baca di Kompas, pengurus PAN bidang buruh berujar untuk segera HAPUS konsep kontrak dan outsourching utk buruh se Indonesia. Artinya semua buruh harus diangkat menjadi pegawai dan pengusaha tdk bisa sembarangan memutus hubungan sepihak. Apakah mereka tdk menempatkan pengusaha juga sebagai stakeholder suatu proses bisnis?. Seolah olah hanya kepentingan buruh saja yg menjadi tujuan utama. Giliran resesi, pengusaha harus ketimpa sial dua kali dgn memberi pesangon seluruh buruh yg di PHK. Apakah hal ini bukannya membuat iklim berinvestasi yang negative?. Suatu perkembangan ekonomi tdk dibangun dalam sekejab. Semua harus berinvestasi diawal termasuk buruh dlm bentuk tenaga. Setelah bisnis lancar, baru keterlaluan kalau hanya pengusaha yg ingin menikmatinya. Atau ini hanya bungkusan agar populasi buruh senang, sehingga akan mencoblos PAN?

Kemarin saya baca ada wacana anggota DPR utk minta di bekali Pistol agar tdk menjadi korban ke dua demo anarkis seperi yg dialami Ketua DPRD SumUt. Padahal yang harus dilihat adalah mekanisme control dan pengawasan jajaran Kepolisian dalam mengawal suatu demonstrasi. Kalau di bekali Pistol, akan muncul lagi peluang ketidak mampuan control & pengawasan penggunaan senjata nya. Pengawasan & control yg ada saja tdk jalan malah menambah item pengawasan. Ataukah ini wacana pribadi agar akhirnya mereka yg wakil rakyat semi preman punya tambahan kekuatan utk menekan?

Sebelumnya lagi saya baca MUI mengeluarkan fatwa HARAM utk GolPUT. Golongan yg tdk mencoblos di Pemilu dikarenakan factor disengaja. Apakah MUI bisa memastikan hukuman Haram tersebut berjalan sehingga menempatkan Allah sebagai suruhan MUI untuk menghukum kaum GolPut?. Apakah MUI bisa memastikan saya akan masuk penjara apabila GolPut?. Hanya Allah yg tahu apakah kita layak masuk surga atau neraka. Sadarkah MUI bahwa mereka juga belum dijamin masuk Surga?. Namanya juga hak utk memilih. Artinya hak saya juga untuk tdk memakai hak saya tersebut. Ataukah ini wacana MUI agar dirangkul atau dekat dengan golongan tertentu?

Demi Demokrasi KARSA dan KAJI ribut soal kecurangan Pemilu. Dengan bangga berhasil mengupayakan Pemilu ulang yg menghabiskan duit rakyat. Itupun tetap tdk puas. Seolah2 duit yg dikumpulkan termasuk dari pajak2 kita bebas utk di hamburkan di tengah rakyat yg banyak bunuh diri karena tdk mampu menghadapi kerasnya hidup ini.

Sedih saya melihat perkembangan kita. Mau kemana Indonesia ini. Semua orang merasa berhak memposisikan diri sebagai Architect pembangunan Indonesia tanpa ada penyamaan bahasa antara para Architect tersebut. Merasa ahli sendirian, namun konsep yg di lempar semuanya hanya jangka pendek dan kulitnya saja.

Teringat apabila kita membangun suatu gedung. Setiap detail bangunan ada architect nya yg merancang detail bagian-bagian tersebut. Namun hal ini baru bisa berjalan setelah Blue Print Master pengembangan utamanyanya jadi dahulu. Jadi harus ada Master Architect nya. Tidak mungkin di Blue Print tersebut disebutkan saluran air utk Kloset dari sisi sebelah mana .

Ada yg bilang dengan demokrasi, kita ikuti saja kemana maunya mayoritas rakyat akan membawa Negara ini. Ini seperti konsep ikuti saja arah air mengalir dari sumber air sampai menuju laut. Kalau pendapat saya hal tsb diatas cocok untuk binatang , bukan manusia.

Migrasi burung yg mencari kehangatan, migrasi wildebeest di Africa yg mencari air, Ikan hias laut jenis Keling yg kalau malam hari masuk kedalam pasir, Mengapa ular tahu mana kodok yg bisa dimakan mana yang beracun dll., hidup dgn mengikuti pola alam. Manusia itu berbeda. Manusia punya kemampuan menganalisa sehingga dapat menghasilkan suatu proses penyederhanaan dalam mencapai tujuan lebih cepat.

Kita bangga di puji sebagai Negara demokrasi utuh. Malah hari ini disebut sebagai Negara demokrasi besar. Kalau istilah ABG nya ‘So What!!’. Ibarat seorang turunan bangsawan dengan gelar raden namun miskin dan malas. Bangga dengan masa lalu atau status namun kosong.

Semua demi demokrasi. Minggu lalu staff kami mengusulkan ikut tender kotak suara. Terus saya bertanya, kemana kotak suara 5 tahun yang lalu yg sengaja dibuat dari Aluminium sehingga kuat utk dipakai di pemilu 5 tahun kemudian. Dijawab staff saya “ mungkin di rusak pak biar panitya yg baru tetap dapat rezeki”.

Saya rasa kunci tulisan saya adalah ‘HATI’. Apakah kita telah cukup memakai Hati untuk berkehidupan saat ini?. Apakah kita sudah memakai ‘Hati’ untuk membangun bangsa ini?. Dari Hati kita kemudian kita telurkan ‘Kesamaan Tujuan’. Dengan Hati pula, dlm memandang Kesamaan Tujuan tersebut kita akan merancang Blue Print bersama untuk tujuan kita bersama.

Namun kayaknya saya lagi berkhayal. Saya yakin berkhayal karena tidak mungkin akibat tulisan ini bangsa ini tergugah utk memakai Hati.

Kamis, 05 Februari 2009

Gitu Aja Kok Repot

Meminjam istilah Gus Dur “Gitu Aja Kok Repot” begitulah kalau kita melihat pemerintah Indonesia bingung mengkontrol tingkat korupsi di Indonesia.
Saya punya resep untuk itu. Cepat, ringkas dan mudah di ukur.

1. (Gitu Aja Kok Repot 1) Setiap pejabat Negara diambil sumpahnya dan siap di audit bahwa beliau ketika nanti mengakhiri jabatannya, kekayaannya tidak boleh lebih dari kekayaannya sebelum dilantik plus/ditambah kumulatif gaji beliau selama menjabat. Kalau dipikir metoda ini, pasti nilai tersebut lebih tinggi dari kenyataannya karena metoda tsb sudah tidak membebankan biaya hidup dan lain lain dari pejabat tersebut.

2. (Gitu Aja Kok Repot 2). Setiap anak, menantu, adik, kakak dan Orang Tua pejabat tersebut HARAM hukumnya berbisnis dengan pemerintah selama beliau menjabat. Usia produktif seseorang kan bisa mencapai 40 tahun apabila mulai berbisnis di usia 20 tahun dan pensiun di usia 60 tahun. Apabila seseorang keluarganya menjabat selama 5 tahun, kan hanya 1/8 dari masa produktif tersebut. Toh hanya berbisnis dengan pemerintah yang dilarang..

Sekali lagi.. Gitu Aja Kok Repot.

Terima Kasih Ayah yang Telah Memberi Kami Makanan yg Halal Selama ini

Hari ini aku teringat kepada ayah ku. Seorang Mayor Jenderal (Purn.) lurus yg tidak mau mengerti seberapa kompleksnya dunia ini. Dari kecil sampai saya bisa punya penghasilan sendiri, kita tdk pernah hidup mewah namun juga tdk pernah hidup berkesusahan. Prinsip ayah salah satunya adalah “Tidak Pernah Meminta”. Rejeki adalah buah dari apa yang telah kita lakukan. Pernah suatu saat di kota Medan, setelah bercerita ke seseorang disana bahwa ayah seorang Mayor Jenderal (Purn.), ayah diledekin orang tersebut dengan julukan “Jenderal Bodoh” karena orang tersebut tdk melihat kemewahan menempel di sekitar Ayah.

Namun AlhamduliLah kami di beri Kemudahan oleh yg diAtas sehingga dari kami sekeluarga, abang-abang saya dan saya sendiri dapat kesempatan bersekolah di ITB melalui jalur standar dan bahkan Lebih tinggi tanpa Ayah harus menggadaikan harga dirinya.

Lanjutan dari kasus kemaren soal kecelakaan saya dgn seorang anggota mabuk, setelah berdamai, saya tidak habis pikir mengapa motor saya harus diurus di DenPOM. Polisi hanya menyurati saya bahwa kasus telah dilimpahkan ke DenPOM. Ketika diurus, untuk mengeluarkan motor, staff saya harus merogoh Rp. 100,000,-. Sedangkan STNK dan SIM saya harus diambil di kota lain tempat DenPOM tersebut berada. Disana, tanpa malu, staff saya diminta dana Rp. 1,000,000,- untuk bertukar nilai sebuah SIM dan STNK. Karena tdk ada dana, akhirnya disetujui Rp. 200,000 dgn kata kata nanti dia kapan kapan akan main ke kantor.

Lucu bagi saya. Perasaan saya HANYA polisi yg punya hak menahan SIM dan STNK. Kasihan ‘anak-anak’nya ya di kasih makan dari duit Haram. Semoga men jadi daging makanannya tersebut. Walaupun dulu selepas ITB saya sempat punya penyakit iri melihat mudahnya sepupu dan teman teman sekitar saya melanjutkan sekolah ke luar negeri, namun posisi saya apabila dibandingkan ‘anak-anak’ tersebut terasa sangat beruntung. Beruntung karena InsyaAllah ketiga anak saya dilahirkan dari perpaduan daging yang halal. (InsyaAllah saya yakin kualitas mertua saya).

Pelajaran yang saya dapatkan hari ini, “Ya Allah, mohon jaga mata, dan hati saya dari godaan syaitan agar keturunan kami dapat tumbuh dengan bekal yang halal dan mampu menjunjung tinggi nilai yang di tanamkan oleh Ayah saya…. Ya Allah lindungilah kedua orang tua kami seperti mereka melindungi kami dari godaan dunia yang silau..

Terima kasih Papa…

Rabu, 04 Februari 2009

Negara Militer kah Indonesia

Kejadian ini kebetulan menimpa saya. Saat mau pulang magrib tgl 26 januari 2009, saya ditabrak 'anggota' mabuk yg menggonceng wanita bukan istrinya yg entah mau berbuat apa. Beliau menyabot jalur saya hendak menyalib mobil di depan saya namun tdk mampu sehingga menabrak saya yg sedang jalan normal di jalurnya. Terjadilah tabrakan hebat. Alhamdullilah Allah sayang saya sehingga saya secara fisik tdk apa apa, begitu juga motor saya..

Namun lawan tabrakan saya kondisinya tdk seberuntung saya. Beliau beserta wanita yg dibonceng nya Patah kaki yg sangat serius. Akibat kantor tempat saya bekerja sangat menaruh hormat dan menjaga hubungan baik dengan Institusi tempat beliau bekerja, maka pendekatan damai lah yg di kedepankan.

Akibat tuntutan dari keluarga pihak wanita, beliau sekeluarga mengaku kehabisan dana dan tdk sanggup menutupi biaya rumah sakit untuk kemudian pindah ke rumah sakit militer. Sehingga akhirnya kami dengan ikhlas menutupi kekukarangan biayanya yang lumayan terasa besarnya.

Namun lucunya kasus tabrakan ini dengan polisi di pindahkan ke DenPom Militer karena beliau adalah anggota. Syukur kata sepakat damai sudah keluar. Namun apabila saya ngotot meneruskan kasus ini ke meja hijau, alangkah kikuknya saya harus menuntut seseorang di dalam rumahnya yg isinya adalah anggota semua. Sedangkan saya orang Sipil.

Bagaimana hak saya ya sebagai orang sipil yg ingin di adili secara sipil. Hanya gara gara lawan adalah militer, segala urusan harus diselesaikan secara militer. Kalau kasus pemberontakan sih saya masuk akal. Bagaimana kalau seorang anggota maling kambing warga?.. Apakah pemilik kambing akhirnya harus lapor ke kesatuan anggota?..Bagaimana kalau anggota melecehkan wanita minoritas?.. Apakah wanita tsb akan dijamin hak hak nya..

Saya sebagai orang yg tdk mengenal hukum mungkin tidak tahu payung sesungguhnya.. Mohon kalau ada kawan yg mengetahui produk hukumnya tsb. Atau jangan jangan memang ini rasa terpendam dari kaum sipil di Indonesia. Kalau hal terakhir ini benar, alangkah enak jadi warga kelas satu ya..

Salam

Penjahat

Minggu, 09 November 2008

Definisi Pahlawan (dlm rangka memepringati Hari Pahlawan 10 November)

Berhubung moment nya pas nih.. Aku ada pertanyaan utk kita diskusikan.

Kakekku (H.A. Bastari), mantan Gubernur Sumatera Selatan dan Kapolda Jawa Tengah jaman Pak Karno. Beliau menolak di makamkan di Makam Pahlawan krn menurut dia Istrinyalah (Nenek saya) yg seharusnya diberi Bintang Gerilya karena harus menanggung menghidupi satu keluarga minus lelaki di tengah hutan di pedalaman Sumatera Selatan waktu jaman revolusi krn sang kakek sibuk bergerilya dan tdk boleh tertangkap agar tdk menjadi umpan agar kakek menyerahkan diri.

Disisi lain, Ayahku kan Mayor Jendral Purn. Masuk militer ketika sudah merdeka. Sudah dipastikan kalau meninggal dapat jatah di Taman makam Pahlawan Kalibata. Tapi kayaknya beliau menolak dan memesan tempat yg sama di TPU Karet agar bisa bersama dgn ibu (walaupun belum meninggal, Ibu sudah mesen duluan kavling di Karet).

Setelah saya lihat lihat, kok kesannya militer itu lebih gampang masuk Taman Makam Pahlawan atau diindentikkan dgn pahlawan. Kayaknya saat ini hampir semua Jendral kalau meninggal pasti bisa dimakamkan di Kalibata. Bagaimanapun cara meninggalnya. Bagaimana dgn peran sipil donk. Apakah mereka tdk punya tempat agar disebut pahlawan.?..

Itu tercermin di perilaku kita. Kl anak kita di sekolah disuruh memaakai pakaian pahlawan karena di sekolahnya akan ada peringatan hari pahlawan, rata rata mereka akan berpakaian ala Tentara. Atau minimal Abang Jampang..

Bagaimana dgn seorang ibu pendiri pabrik obat Dexa yang saat ini distribusinya sudah sampai Afrika, Bagaimana dgn upaya Jacobus Busono yang mengembangkan Pura Group sehingga sangat unggul di dunia security paper dan Holografy, Bagaimana dgn usaha pionir perintis jaringan transportasi ALS yang menghubungkan Sumatera - Jawa?.. dan banyak yang lainnya.. Apakah sedikit ruang untuk mereka untuk bisa disebut pahlawan?..



Dandi Z. Sjechlad
cucu pahlawan
anak pahlawan
pahlawan... (khsusus utk anak dan istriku...InsyaAllah)...

Rabu, 26 Desember 2007

Berkhayal untuk Pemilu yang demokratis

Berkhayal untuk Pemilu yang demokratis.

Mungkin ngak ya .. Setiap Pemilihan Umum dilakukan benar benar bebas. Bebas yg paling penting adalah bebas untuk memilih siapa yang hendak di pilih. Saat ini yang ada dimana mana kita memilih orang yang hendak di pilih. Yang ada adalah; orang kaya yang kebanyakan duit dan tinggal cari hobby/status baru sebagai pemimpin, orang yang berambisi menjadi pemimpin dan berkampanye agar dipilih, dan orang yang di plot untuk maksud tertentu dan mengamankan kepentingan tertentu. Jarang seorang pemimpin murni yang tetap murni setelah keluar dari ajang kampanye. Biasanya karena dituntut untuk memperoleh dana kampanye yang besar, oarang tersebut rela membuang ke murnian-nya untuk di sokong oleh orang kaya yang punya niat tersendiri.

Pengalaman berbicara bagaimana almarhum Cak Nurcholis Madjid ketika hendak maju sebagai calon Presiden namun tidak memiliki dana dan kendaraan. Maklum. Orang ‘lempeng’ malah jarang yang mau support. Di sisi lain tokoh Amien Rais, yang tadinya tokoh lurus berubah menjadi tokoh yang di tebengi banyak kepentingan.

Problem orang lurus / murni biasanya tidak ingin menonjolkan diri sebagai orang lurus / murni. Masyarakatlah yang dapat menilai kelurusan dan kemurniannya. Sehingga bayangkan bagaimana orang yang tdk ingin menonjol tersebut harus menonjolkan diri dengan berjualan kecap…

Mungkin kalau pemilu dirubah dimana pada putaran pertama setiap pemilih berhak untuk memilih siapa saja yang mereka yakini mampu sebagai pemimpin mereka. Diputaran kedua baru 2 besar pemimimpin yang memperoleh pilihan paling besar (2 dari begitu banyak pilihan masyarakat yang muncul) dipilih lagi layaknya pemilu saat ini langsung hanya dengan 1x putaran. Hasil yang diperoleh akan lebih demokratis. Sistem ini menjamin tidak akan ada Golongan Putih (Golput) pada putaran pertama. Yang Golput artinya memang orang apatis yang dirinya sendiri dianggap tidak layak sebagai pemimpin. Saya rasa metoda ini layak dipertimbangkan walaupun kendala-kendalanya juga makin berlipat. Adapun kendala-kendalanya meliputi:

-----Setiap orang harus memiliki nomor yang uniq sehingga setiap masyarakat yang hendak memilih tidak akan salah memilih karena nomor tersebut yang harus mereka cantumkan. Nomor uniq tersebut harus systematis tersusun seperti nomor KTP atau Wajip Pajak sehingga hanya ada satu nomor di seluruh Indonesia. Padahal kita tahu saat ini belum ada nomor KTP dan wajib pajak yang uniq di Indonesia. Banyak yg punya KTP double, atau bahkan orang dewasa yang tidak mempunyai nomor wajip pajak.

S---Setiap masyarakat dengan gampangnya mencari nomor uniq tersebut atas nama seseorang yang dia kagumi. Nomor tersebut mungkin dapat di taruh di suatu website yang khusus meng-guide pencarian nomor uniq tsb atas nama, alamat, tanggal lahir, profesi dll dari seseorang. Kendalanya adalah system ini bisa disalah gunakan. Orang bisa mendapatkan alamat seseorang dari system ini. Mungkin harus dirancang output nya hanya berupa nomor uniq tsb. Alamat, nama dan lain lain hanya keyword / keysentence untuk mencari saja. Kendala lainnya tidak semua orang di Indonesia yang melek internet.

Namun keuntungan yang dihasilkan dari sistem ini pemilihnya pun harus mencantumkan nomor uniq nya sendiri. Sehingga proses filter atas suara ganda dapat diatasi.

-----System perhitungan mau ngak mau harus melibatkan komputer dengan memory yang besar. Bayangkan pilihan akan bisa mencapai ribuan bahkan mungkin jutaan orang dan yang terpilih hanya 2 besar. Tidak mungkin melibatkan perhitungan manual. Artinya setiap masyarakat / system Pemilu HARUS menerima system perhitungan komputer sebagai metoda resmi yang diakui.

-----Proses perhitungan yang kompleks. Perhitungan bisa dilakukan penyederhanaan dengan memfilter 2 nama terbesar setiap kabupaten / provinsi yang berhak maju ke perhitungan nasional. Dipilih 2 nama karena mungkin saja ke dua pilihan kandidat putaran kedua nasional semuanya dari daerah tersebut.

P---Pemerataan informasi dan sosialisasi metoda ini yang harus sampai menyentuh masyarakat terpencil sekalipun.

-----Dan lain-lain.

Akhir kata ini hanyalah khayalan. Namun saya merasa, tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting itikat kita untuk selalu mencari kesempurnaan dan perbaikan dari kondisi saat ini. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Minggu, 25 November 2007

Berkhayal untuk pembangunan Sumatera

Tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum tersebut yang memulai suatu perubahannya.

Untuk mencapai suatu tujuan, buatlah langkah kecil yang merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari langkah besar.

Kira kira itulah pikiran dasar saya kalau memikirkan “ Mau kemana bangsa ini”. Sejelek jeleknya pak Harto, namun pada periode tersebutlah saya mengenal REPELITA dan PELITA. Rencana pembangunan industri bahan pokok pertanian, dilanjutkan pembangunan industri bahan baku pertanian, industri yang menunjang pertanian dan sebagainya dengan ujung suatu bangsa yang kuat dan maju di industri pertanian dan permesinan untuk pertanian. Memang arogan sih karena bisa membuat rancangan Pelita langsung berentet yang saling sambung / sinergy. Yakin benar pak harto kalau pasti dan pasti kepilih terus.

Namun orang sekelas pak Harto pun bisa tidak konsisten dengan konsep Repelitanya. Ditengah jalan, pak Harto terkagum-kagum dengan sosok BJ Habibie sehingga konsep Repelitanya tersebut melenceng ditengah. Dengan konsep mercusuar “IPTN”, dana Rebeboisasi yang merupakan komponen penunjang Repelita pun sanggup untuk di lencengkan menjadi pesawat terbang. Apa hubungan industri pesawat terbang dengan industri pertanian?.

Saat ini Presiden kita dipilih dari Pemilu. Dagangannya hanya janji kampanye yang saat dijalankan pun melenceng dari janji awal. Maksimum idea bisa dikembangkan hanya 2 kali @5 tahun yaitu 10 tahun. Tahun berikutnya kalau Presiden baru tidak suka atau punya konsep berbeda, habislah rintisan tersebut. Disisi lain, para Raja daerah yaitu Bupati dan Walikota juga menjanjikan topik topiknya sendiri ketika kampanye. Siapa yg bisa memastikan idea-idea para raja kecil ini searah dengan idea Presiden!!. Nah lo. Rumahnya sama, tapi antara anak, istri dan bapak sebagai kepala rumah tangga punya agenda masing masing.

Sama dengan Presiden, mereka pun tidak ada pagar pembatas / guide pengembangan ketika mereka memenangi Pemilu. Semuanya hanya dengan blanko kosong. Dengan ego masing-masing. Bagaimana cara mensinergykan mereka?. Suatu kala, almarhum gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin sempat marah karena para Bupati di daerahnya ‘emoh’ datang utk meeting koordinasi karena merasa Gubernur bukan atasannya. Yang ekstreem lagi kemarin (15 November 2007) berbeda dengan yang lain, ada rancangan di daerah Riau yang akan mematok harga membuat KTP sebesar Rp. 400,000,-. Gila.

BAPENNAS yang seharusnya menggodok perencanaan nasional hanya sibuk mengurusi pinjaman luar negeri. Coba tanya orang Bapenas; Apa rencana mereka tentang Sumatra 6 tahun ke muka. Bagaimana memajukan ekonomi provinsi di Sumatera. Pastilah ngak ada jawaban yang membumi. 1 bulan kemudian kita datang lagi, jawaban sangat mungkin akan berbeda karena memang real nya tidak ada.

Jadi siapa yg harus membuat rencana jangka panjang?. MPR?. …..Capek deh!!…

“marilah kita melakukan perubahan dimulai dari diri kita sendiri”.

Untuk memikirkan negara saya rasa idea tersebut terlalu muluk-muluk. Terlalu banyak Pakar yang tidak pintar di sini. Dipikirkan oleh negarawan sekelas Profesor saja tidak beres beres. Bagaimana kalau kita mengecilkan area mengkhayal kita sampai batas pulau Sumatera dulu. Kenapa Sumatera?.. karena dari sanalah saya dilahirkan dari seorang ayah bersuku Melayu Deli dan Ibu bersuku Komering. Masak saya dulukan Sulawesi?..

Dengan diawali contoh-contoh idea saya, kira kira khayalan saya seperti ini:

Langkah Pertama: Rancangan pembangunan ekonomi

Dimanakah pasar. Harus dilihat dengan sejelas-jelasnya soal tujuan pasar yang paling besar. Apakah tujuan pengiriman produk harus ke jakarta atau pulau jawa?. Bagaimana kalau tujuan produk kita langsung berupa ekspor ke wilayah daratan Asia melalui Malaysia / Singapore?. Dari sisi jumlah potential pembeli secara kuantitas lebih banyak berlipat-lipat dari jumlah penduduk Jawa dan secara luas geografy juga berratus-ratus lipat luas pulau Jawa. Apabila kita pasarkan ke Asia, kita sudah bermain sebagai pemain ekspor dan bukan pemain lokal. Mungkin bahasa kerennya” Think like Asian, not only Indonesian”.

Pintu Gerbang Strategis. Saya berkhayal agar bisa memanas-manasin negara Malaysia dan Thailand untuk secara bersama-sama mereka membangun terowongan / terusan transportasi laut yang memotong leher terkecil daerah perbatasan mereka (Coba lihat peta, di daerah Thailand dekat malaysia ada leher daratan yang ramping yang potential utk di buat terusan). Dengan konsep terusan ini, kapal-kapal dari daratan eropa/afrika /timur tengah yang hendak keChina/ Jepang dan Amerika tidak perlu lewat Singapore. Hanya tujuan ke Australia dan Selandia Baru yang masih melalui jalur lama. Dengan konsep ini, Pulau Sabang bisa di kembangkan menjadi pulau pelabuhan tempat kapal-kapal tersebut beristirahat, bongkar container, melakukan maintenance, dan pengisian perbekalan. Dari titik ini pula ekspor-impor produk dari dan ke pulau Sumatera dapat di lakukan.

Transportasi Penghubung dan Komunikasi. Perlu dibuat jalan Tol dan jalur Kereta Api di tulang punggung pulau Sumatera yang menghubungkan Bakaheuni sampai Banda Aceh melewati provinsi-provinsi yang ada. Mengaca pada kasus pasar tumpah di jalur lintas utara jawa, jalan tersebut dilarang melalui kota kota yang ada sehingga laju distribusi tidak terganggu aktivitas kota. Akses dari wilayah di pedalaman ke Jalur Tol dikembangkan oleh Pemda setempat. Di China, banyak sekali pengembangan jalan raya bukan Tol yang di lakukan oleh Pemda setempat. Sampai batas suatu waktu sesuai investasinya, setiap orang yang lewat harus ikut menanggung biaya pengembangannya. Setelah balik seluruh permodalannya jalan tersebut kembali menjadi Jalan raya umum yang bebas untuk dijalani.

Apabila pandangan membuka pasar ekspor langsung ke daratan Asia merupakan tujuan, perlu dibuat pelabuhan penyeberangan Feri yang terbaik dari wilayah Riau / Sumatera Utara ke Malaysia. Kalau perlu, dirintis kemungkinan pembuatan Jembatan penyeberangan melintasi selat malaka melalui pijakan pulau pulau di Kepulauan Riau yang tersebar disana.

Perlu juga dibuat rintisan ekspedisi yang tugasnya mendistribusikan kelebihan / potensi produk daerah lain ke daerah lainnya sehingga tidak ada lagi cerita produk rusak tidak terjual karena harga jatuh (stock berlimpah) sedangkan daerah lain malah tidak tersuplai. Seperti nadi darah, setiap daerah di pulau Sumatera harus terjamah sistem sirkulasi tersebut. Contoh musim nanas di Palembang, nanas tersebut juga dapat dinikmati di daerah Takengon di Aceh. Panen bawang di bengkulu harus bisa didistribusikan sampai Medan. Kalau perlu dibuat perusahaan daerah yang bertugas mendistribusikan potensi produk tsb. Mereka harus bisa memetakan potensi produk tersebut beserta kalender kerja dengan jelas.

Penanaman Modal Asing. Dengan akses infrastruktur yang baik tersebut diatas dan kepastian hukum di wilayah pulau Sumatra, maka besarlah peluang investor untuk menanamkan modal asingnya berupa pabrik pabrik yang produknya langsung bisa di ekspor melalui jalan Tol tersebut langsung ke daratan Asia melalui Fery atau pelabuhan Ekspor Impor di pulau Sabang.

Edukasi dan Peluang Kerja. Guna mengangkat harkat generasi muda di pulau Sumatera dan menyediakan karyawan yang kompeten bagi para investor asing, harus dibuat suatu yayasan pendidikan yang mendidik putra putri dari Pulau Sumatera untuk belajar dan mengimplementasikan pengetahuan hasil pendidikan yang didapatnya di industri-industri yang ada di Pulau Sumatera. Penanam modal di Pulau Sumatera harus dirangkul bersama untuk mengembangkan sistem bersama yang mendidik dan mengakomodasi potensi penduduk Pulau Sumatera. Langkah lainya seperti menjalankan konsep yang tertuang di blog yang lalu yaitu “Berkhayal untuk yatim Piatu”

Nilai Keunggulan Tiap Daerah. Dipastikan tiap pelosok di pulau Sumatera memiliki keuniqan yang bisa diasah menjadi Keunggulan Bersaing dari tiap kabupaten / provinsi. Tanpa menghilangkan unsur persaingan sehat, masing-masing daerah harus sinergy dalam mengembangkan potensi yang ada baik potensi sendiri maupun potensi daerah lain. Masing-masing daerah HARUS berkompetensi yang sehat yang dapat saling melipatkan potensi daerah lain yang ada. Potensi penduduk harus diasah sesuai nilai jual lokal yang ada. Konsep pemikiran yang lalu yaitu “Berkhayal untuk rakyat Petani dan Nelayan” juga cocok untuk diimplementasikan.

Langkah kedua: Merancang Rencana jangka panjang menuju visi yang diinginkan.

“Bakmi GM tidak berhasil maju dan populer dalam semalam”

Dituntut rancangan strategy jangka panjang yang terbukti tangguh guna mencapai cita-cita yang diinginkan. Dalam rancangan ini harus terpapar jelas langkah langkah awal membangun pondasi di tiap daerah. Dirancang pula peran support tiap daerah untuk kemajuan pembangunan pondasi daerah lain.Kemudian dilanjutkan periode langkah langkah selanjutnya.

Rancangan pun harus dibuat focus dan dinamis mengikuti perkembangan politik nasional dan lokal. Turut diperhitungkan pula metoda evaluasi dan modifikasi.

Dalam setiap periode tersebut harus turut diperhitungkan pula system pembiayaannya. Termasuk didalamnya urutan strategynya.

Langkah ketiga: Satu Komando, satu rancangan.

Harus dibuat suatu grand scenario yang mampu untuk diimplementasikan di seluruh pulau Sumatera. Saat ini para Bupati dan Gubernur tidak mampu untuk mensinergykan tugas ini mengingat luas kekuasaannya hanya sebagian dari pulau Sumatera. Sedangkan disatu sisi lagi mereka HANYA bertanggung jawab dengan rakyat melalui Pemilu. Partai Politiklah yang mampu mempersatukan mereka. Mereka harus loyal kepada satu atau kumpulan Partai Politik yang beraliansi.

Namun struktur partai politik kita masih bersifat nasional yang pastilah tidak akan mau untuk hanya melayani pulau sumatera. Sifat partai politik saat ini hanya fokus di ideologi (kesamaan agama, Nasionalisme, Faham, dll, dan bukan geografy (sumatera, jawa, kalimantan, dll.)

Disatu sisi lain, partai lokal yang sekarang lagi di dengungkan seperti di Aceh, selain tentang ideologi, mereka hanya bersifat lokal Provinsi. Sedangkan di Sumatera ada banyak provinsi. Bagaimana cara mereka agar bisa memiliki satu tujuan dan satu bahasa?. Dan yang perlu diingat, idea Partai lokal ini hanya baru idea dan banyak yang menentangnya pula.

Sesuai dengan kenyataan bahwa kita harus mengakomodir peraturan yang ada, maka harus dibentuk Partai Baru berskala nasional namun bervisi hanya kemajuan pulau Sumatera. Tanpa mengundang negatif thinking atas kedaerahan (tidak usah kita bahas karena semangatnya memang tidak kesana. HIDUP INDONESIA!), partai baru ini HARUS mampu merangkul seluruh masyarakat Sumatera / Alumni dan yang merasa sayang terhadap Sumatera (yang ingin melihat Sumatera maju) di seluruh tanah air dengan mengutarakan rancangan kedepan partai ini dengan sejelas jelasnya.

Kelemahan partai politik saat ini rata-rata mereka hanya hidup ketika menjelang Pemilu. Mereka dijalankan tanpa konsep yang jelas. Selebihnya adalah milik pembesar partai dan menjalankan misi mereka. Kita harus tunjukkan bahwa kita beda. Partai ini harus terbebas dari figur, dan kepentingan pribadi. Partai ini HARUS lahir dengan membawa visi dan misi yang sudah ada walaupun tidak kaku/rigid dan siap menampung buah pikiran lainnya. Harus diperjelas bahwa di partai ini setiap masukan dihargai. Rencana strategis partai yang coba ditawarkan MASIH tetap HARUS dapat berubah, walaupun hanya system implementasinya. Jabaran tersebut harus memuat:

1. Ide dasar yang ditawarkan yang diungkapkan secara detail dan systematis. Hal ini merupakan KEHARUSAN sebagai bukti bukan janji. Ketika para pemilih akan memilih, mereka harus sudah mendapatkan idea dasar dan strategy Partai tersebut.

2. Mekanisme pemasukan idea untuk memodifikasi idea dasar tersebut sehingga ide tersebut akan berubah makin tajam dan terasah dengan sangat baik melibatkan bukan saja team pendahulu, namun semua masyarakat merasa diajak dalam rangka merancang dan mengawasi, sehingga ide tersebut bukan saja milik Partai namun milik seluruh masyarakat pemilih.

Seluruh warga Sumatera di seluruh Indonesia diminta peran aktifnya untuk :

1. Mewakili cabang Partai ini di seluruh wilayah Indonesia (syarat partai Politik saat ini dimana harus mempunya perwakilan di seluruh provinsi di Indonesia) agar partai dapat lolos dari syarat minimal partai.

2. Memenangi Partai Politik ini KHUSUSnya di SELURUH wilayah Pulau Sumatera. Kalau perlu mereka pulang kampong dan memilih di sana.

Target pemenangan pemilu tidak hanya DPRD namun seluruh posisi bupati / walikota dan Gubernur di seluruh pulau Sumatera HARUS direbut. Dengan begini maka Partai dengan idea dasar bersama tersebut mampu mengkontrol lajunya pembangunan sesuai dengan cita cita dasar tersebut.

Agar jauh dari ‘Numpang hidup’, Partai harus menutup diri dari orang orang yang ingin “bekerja” di Partai. Partai hanya untuk orang yang ingin menuangkan idea dan mengawal visi dan misi bersama tersebut. Untuk hal tersebut diatas, partai harus mampu mem-filter pengurus partai/ anggota DPRD /pejabat kepala daerah yang diunggulkan sehingga terpilihlah orang-orang yang benar-benar menghayati VISI bersama tersebut dan Partai harus mengembangkan system check and balance atas masukan loyalis partai sehingga mereka merasa dilibatkan atas jalannya implementasi visi ini.

Dengan konsep ini maka pembangunan yang ada dapat terarah dengan jelas

Langkah keempat: Digitalisasi Data, Network dan Komunikasi

Seluruh database kependudukan, kepolisian, industri, perdagangan, pajak dll harus saling bergandengan menjadi SATU sistem yang satu. Tiap kabupaten saling berhubungan membentuk Sistem Informasi Daerah Sumatera.

Setiap orang yang masuk dan keluar baik warga negara RI maupun warga negara Asing HARUS terdata dengan jelas. Tidak ada satu orang pun yang tidak terdata. Presiden pun kalau berkunjung harus memasukkan data yang dibutuhkan sejelas jelasnya.

Dengan konsep ini, maka terjadi kemudahan di banyak sistem seperti: data kependudukan/imigrasi, data kepemilikan, data pendapatan/penghasilan, data perpajakan, data pembelian, data perdagangan, dan lain-lain.

Apabila Pemerintah Pusat senang dengan hasil komputerisasi tersebut, Pemerintah Pusat boleh menggabungkan systemnya ke system yang telah kita bangun.

Visi & Misi diatas hanya contoh-contoh dari saya. Visi dan Misi yang sesungguhnya harus dirancang bersama sehingga terasa milik bersama. Dengan langkah-langkah diatas, Pulau Sumatera akan mampu mengejar ketinggalanya dan kemudian maju memimpin pembangunan Republik Indonesia seutuhnya.

Kalau bukan kita yang memulai siapa lagi.





KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia