Minggu, 25 November 2007

Berkhayal untuk pembangunan Sumatera

Tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum tersebut yang memulai suatu perubahannya.

Untuk mencapai suatu tujuan, buatlah langkah kecil yang merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari langkah besar.

Kira kira itulah pikiran dasar saya kalau memikirkan “ Mau kemana bangsa ini”. Sejelek jeleknya pak Harto, namun pada periode tersebutlah saya mengenal REPELITA dan PELITA. Rencana pembangunan industri bahan pokok pertanian, dilanjutkan pembangunan industri bahan baku pertanian, industri yang menunjang pertanian dan sebagainya dengan ujung suatu bangsa yang kuat dan maju di industri pertanian dan permesinan untuk pertanian. Memang arogan sih karena bisa membuat rancangan Pelita langsung berentet yang saling sambung / sinergy. Yakin benar pak harto kalau pasti dan pasti kepilih terus.

Namun orang sekelas pak Harto pun bisa tidak konsisten dengan konsep Repelitanya. Ditengah jalan, pak Harto terkagum-kagum dengan sosok BJ Habibie sehingga konsep Repelitanya tersebut melenceng ditengah. Dengan konsep mercusuar “IPTN”, dana Rebeboisasi yang merupakan komponen penunjang Repelita pun sanggup untuk di lencengkan menjadi pesawat terbang. Apa hubungan industri pesawat terbang dengan industri pertanian?.

Saat ini Presiden kita dipilih dari Pemilu. Dagangannya hanya janji kampanye yang saat dijalankan pun melenceng dari janji awal. Maksimum idea bisa dikembangkan hanya 2 kali @5 tahun yaitu 10 tahun. Tahun berikutnya kalau Presiden baru tidak suka atau punya konsep berbeda, habislah rintisan tersebut. Disisi lain, para Raja daerah yaitu Bupati dan Walikota juga menjanjikan topik topiknya sendiri ketika kampanye. Siapa yg bisa memastikan idea-idea para raja kecil ini searah dengan idea Presiden!!. Nah lo. Rumahnya sama, tapi antara anak, istri dan bapak sebagai kepala rumah tangga punya agenda masing masing.

Sama dengan Presiden, mereka pun tidak ada pagar pembatas / guide pengembangan ketika mereka memenangi Pemilu. Semuanya hanya dengan blanko kosong. Dengan ego masing-masing. Bagaimana cara mensinergykan mereka?. Suatu kala, almarhum gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin sempat marah karena para Bupati di daerahnya ‘emoh’ datang utk meeting koordinasi karena merasa Gubernur bukan atasannya. Yang ekstreem lagi kemarin (15 November 2007) berbeda dengan yang lain, ada rancangan di daerah Riau yang akan mematok harga membuat KTP sebesar Rp. 400,000,-. Gila.

BAPENNAS yang seharusnya menggodok perencanaan nasional hanya sibuk mengurusi pinjaman luar negeri. Coba tanya orang Bapenas; Apa rencana mereka tentang Sumatra 6 tahun ke muka. Bagaimana memajukan ekonomi provinsi di Sumatera. Pastilah ngak ada jawaban yang membumi. 1 bulan kemudian kita datang lagi, jawaban sangat mungkin akan berbeda karena memang real nya tidak ada.

Jadi siapa yg harus membuat rencana jangka panjang?. MPR?. …..Capek deh!!…

“marilah kita melakukan perubahan dimulai dari diri kita sendiri”.

Untuk memikirkan negara saya rasa idea tersebut terlalu muluk-muluk. Terlalu banyak Pakar yang tidak pintar di sini. Dipikirkan oleh negarawan sekelas Profesor saja tidak beres beres. Bagaimana kalau kita mengecilkan area mengkhayal kita sampai batas pulau Sumatera dulu. Kenapa Sumatera?.. karena dari sanalah saya dilahirkan dari seorang ayah bersuku Melayu Deli dan Ibu bersuku Komering. Masak saya dulukan Sulawesi?..

Dengan diawali contoh-contoh idea saya, kira kira khayalan saya seperti ini:

Langkah Pertama: Rancangan pembangunan ekonomi

Dimanakah pasar. Harus dilihat dengan sejelas-jelasnya soal tujuan pasar yang paling besar. Apakah tujuan pengiriman produk harus ke jakarta atau pulau jawa?. Bagaimana kalau tujuan produk kita langsung berupa ekspor ke wilayah daratan Asia melalui Malaysia / Singapore?. Dari sisi jumlah potential pembeli secara kuantitas lebih banyak berlipat-lipat dari jumlah penduduk Jawa dan secara luas geografy juga berratus-ratus lipat luas pulau Jawa. Apabila kita pasarkan ke Asia, kita sudah bermain sebagai pemain ekspor dan bukan pemain lokal. Mungkin bahasa kerennya” Think like Asian, not only Indonesian”.

Pintu Gerbang Strategis. Saya berkhayal agar bisa memanas-manasin negara Malaysia dan Thailand untuk secara bersama-sama mereka membangun terowongan / terusan transportasi laut yang memotong leher terkecil daerah perbatasan mereka (Coba lihat peta, di daerah Thailand dekat malaysia ada leher daratan yang ramping yang potential utk di buat terusan). Dengan konsep terusan ini, kapal-kapal dari daratan eropa/afrika /timur tengah yang hendak keChina/ Jepang dan Amerika tidak perlu lewat Singapore. Hanya tujuan ke Australia dan Selandia Baru yang masih melalui jalur lama. Dengan konsep ini, Pulau Sabang bisa di kembangkan menjadi pulau pelabuhan tempat kapal-kapal tersebut beristirahat, bongkar container, melakukan maintenance, dan pengisian perbekalan. Dari titik ini pula ekspor-impor produk dari dan ke pulau Sumatera dapat di lakukan.

Transportasi Penghubung dan Komunikasi. Perlu dibuat jalan Tol dan jalur Kereta Api di tulang punggung pulau Sumatera yang menghubungkan Bakaheuni sampai Banda Aceh melewati provinsi-provinsi yang ada. Mengaca pada kasus pasar tumpah di jalur lintas utara jawa, jalan tersebut dilarang melalui kota kota yang ada sehingga laju distribusi tidak terganggu aktivitas kota. Akses dari wilayah di pedalaman ke Jalur Tol dikembangkan oleh Pemda setempat. Di China, banyak sekali pengembangan jalan raya bukan Tol yang di lakukan oleh Pemda setempat. Sampai batas suatu waktu sesuai investasinya, setiap orang yang lewat harus ikut menanggung biaya pengembangannya. Setelah balik seluruh permodalannya jalan tersebut kembali menjadi Jalan raya umum yang bebas untuk dijalani.

Apabila pandangan membuka pasar ekspor langsung ke daratan Asia merupakan tujuan, perlu dibuat pelabuhan penyeberangan Feri yang terbaik dari wilayah Riau / Sumatera Utara ke Malaysia. Kalau perlu, dirintis kemungkinan pembuatan Jembatan penyeberangan melintasi selat malaka melalui pijakan pulau pulau di Kepulauan Riau yang tersebar disana.

Perlu juga dibuat rintisan ekspedisi yang tugasnya mendistribusikan kelebihan / potensi produk daerah lain ke daerah lainnya sehingga tidak ada lagi cerita produk rusak tidak terjual karena harga jatuh (stock berlimpah) sedangkan daerah lain malah tidak tersuplai. Seperti nadi darah, setiap daerah di pulau Sumatera harus terjamah sistem sirkulasi tersebut. Contoh musim nanas di Palembang, nanas tersebut juga dapat dinikmati di daerah Takengon di Aceh. Panen bawang di bengkulu harus bisa didistribusikan sampai Medan. Kalau perlu dibuat perusahaan daerah yang bertugas mendistribusikan potensi produk tsb. Mereka harus bisa memetakan potensi produk tersebut beserta kalender kerja dengan jelas.

Penanaman Modal Asing. Dengan akses infrastruktur yang baik tersebut diatas dan kepastian hukum di wilayah pulau Sumatra, maka besarlah peluang investor untuk menanamkan modal asingnya berupa pabrik pabrik yang produknya langsung bisa di ekspor melalui jalan Tol tersebut langsung ke daratan Asia melalui Fery atau pelabuhan Ekspor Impor di pulau Sabang.

Edukasi dan Peluang Kerja. Guna mengangkat harkat generasi muda di pulau Sumatera dan menyediakan karyawan yang kompeten bagi para investor asing, harus dibuat suatu yayasan pendidikan yang mendidik putra putri dari Pulau Sumatera untuk belajar dan mengimplementasikan pengetahuan hasil pendidikan yang didapatnya di industri-industri yang ada di Pulau Sumatera. Penanam modal di Pulau Sumatera harus dirangkul bersama untuk mengembangkan sistem bersama yang mendidik dan mengakomodasi potensi penduduk Pulau Sumatera. Langkah lainya seperti menjalankan konsep yang tertuang di blog yang lalu yaitu “Berkhayal untuk yatim Piatu”

Nilai Keunggulan Tiap Daerah. Dipastikan tiap pelosok di pulau Sumatera memiliki keuniqan yang bisa diasah menjadi Keunggulan Bersaing dari tiap kabupaten / provinsi. Tanpa menghilangkan unsur persaingan sehat, masing-masing daerah harus sinergy dalam mengembangkan potensi yang ada baik potensi sendiri maupun potensi daerah lain. Masing-masing daerah HARUS berkompetensi yang sehat yang dapat saling melipatkan potensi daerah lain yang ada. Potensi penduduk harus diasah sesuai nilai jual lokal yang ada. Konsep pemikiran yang lalu yaitu “Berkhayal untuk rakyat Petani dan Nelayan” juga cocok untuk diimplementasikan.

Langkah kedua: Merancang Rencana jangka panjang menuju visi yang diinginkan.

“Bakmi GM tidak berhasil maju dan populer dalam semalam”

Dituntut rancangan strategy jangka panjang yang terbukti tangguh guna mencapai cita-cita yang diinginkan. Dalam rancangan ini harus terpapar jelas langkah langkah awal membangun pondasi di tiap daerah. Dirancang pula peran support tiap daerah untuk kemajuan pembangunan pondasi daerah lain.Kemudian dilanjutkan periode langkah langkah selanjutnya.

Rancangan pun harus dibuat focus dan dinamis mengikuti perkembangan politik nasional dan lokal. Turut diperhitungkan pula metoda evaluasi dan modifikasi.

Dalam setiap periode tersebut harus turut diperhitungkan pula system pembiayaannya. Termasuk didalamnya urutan strategynya.

Langkah ketiga: Satu Komando, satu rancangan.

Harus dibuat suatu grand scenario yang mampu untuk diimplementasikan di seluruh pulau Sumatera. Saat ini para Bupati dan Gubernur tidak mampu untuk mensinergykan tugas ini mengingat luas kekuasaannya hanya sebagian dari pulau Sumatera. Sedangkan disatu sisi lagi mereka HANYA bertanggung jawab dengan rakyat melalui Pemilu. Partai Politiklah yang mampu mempersatukan mereka. Mereka harus loyal kepada satu atau kumpulan Partai Politik yang beraliansi.

Namun struktur partai politik kita masih bersifat nasional yang pastilah tidak akan mau untuk hanya melayani pulau sumatera. Sifat partai politik saat ini hanya fokus di ideologi (kesamaan agama, Nasionalisme, Faham, dll, dan bukan geografy (sumatera, jawa, kalimantan, dll.)

Disatu sisi lain, partai lokal yang sekarang lagi di dengungkan seperti di Aceh, selain tentang ideologi, mereka hanya bersifat lokal Provinsi. Sedangkan di Sumatera ada banyak provinsi. Bagaimana cara mereka agar bisa memiliki satu tujuan dan satu bahasa?. Dan yang perlu diingat, idea Partai lokal ini hanya baru idea dan banyak yang menentangnya pula.

Sesuai dengan kenyataan bahwa kita harus mengakomodir peraturan yang ada, maka harus dibentuk Partai Baru berskala nasional namun bervisi hanya kemajuan pulau Sumatera. Tanpa mengundang negatif thinking atas kedaerahan (tidak usah kita bahas karena semangatnya memang tidak kesana. HIDUP INDONESIA!), partai baru ini HARUS mampu merangkul seluruh masyarakat Sumatera / Alumni dan yang merasa sayang terhadap Sumatera (yang ingin melihat Sumatera maju) di seluruh tanah air dengan mengutarakan rancangan kedepan partai ini dengan sejelas jelasnya.

Kelemahan partai politik saat ini rata-rata mereka hanya hidup ketika menjelang Pemilu. Mereka dijalankan tanpa konsep yang jelas. Selebihnya adalah milik pembesar partai dan menjalankan misi mereka. Kita harus tunjukkan bahwa kita beda. Partai ini harus terbebas dari figur, dan kepentingan pribadi. Partai ini HARUS lahir dengan membawa visi dan misi yang sudah ada walaupun tidak kaku/rigid dan siap menampung buah pikiran lainnya. Harus diperjelas bahwa di partai ini setiap masukan dihargai. Rencana strategis partai yang coba ditawarkan MASIH tetap HARUS dapat berubah, walaupun hanya system implementasinya. Jabaran tersebut harus memuat:

1. Ide dasar yang ditawarkan yang diungkapkan secara detail dan systematis. Hal ini merupakan KEHARUSAN sebagai bukti bukan janji. Ketika para pemilih akan memilih, mereka harus sudah mendapatkan idea dasar dan strategy Partai tersebut.

2. Mekanisme pemasukan idea untuk memodifikasi idea dasar tersebut sehingga ide tersebut akan berubah makin tajam dan terasah dengan sangat baik melibatkan bukan saja team pendahulu, namun semua masyarakat merasa diajak dalam rangka merancang dan mengawasi, sehingga ide tersebut bukan saja milik Partai namun milik seluruh masyarakat pemilih.

Seluruh warga Sumatera di seluruh Indonesia diminta peran aktifnya untuk :

1. Mewakili cabang Partai ini di seluruh wilayah Indonesia (syarat partai Politik saat ini dimana harus mempunya perwakilan di seluruh provinsi di Indonesia) agar partai dapat lolos dari syarat minimal partai.

2. Memenangi Partai Politik ini KHUSUSnya di SELURUH wilayah Pulau Sumatera. Kalau perlu mereka pulang kampong dan memilih di sana.

Target pemenangan pemilu tidak hanya DPRD namun seluruh posisi bupati / walikota dan Gubernur di seluruh pulau Sumatera HARUS direbut. Dengan begini maka Partai dengan idea dasar bersama tersebut mampu mengkontrol lajunya pembangunan sesuai dengan cita cita dasar tersebut.

Agar jauh dari ‘Numpang hidup’, Partai harus menutup diri dari orang orang yang ingin “bekerja” di Partai. Partai hanya untuk orang yang ingin menuangkan idea dan mengawal visi dan misi bersama tersebut. Untuk hal tersebut diatas, partai harus mampu mem-filter pengurus partai/ anggota DPRD /pejabat kepala daerah yang diunggulkan sehingga terpilihlah orang-orang yang benar-benar menghayati VISI bersama tersebut dan Partai harus mengembangkan system check and balance atas masukan loyalis partai sehingga mereka merasa dilibatkan atas jalannya implementasi visi ini.

Dengan konsep ini maka pembangunan yang ada dapat terarah dengan jelas

Langkah keempat: Digitalisasi Data, Network dan Komunikasi

Seluruh database kependudukan, kepolisian, industri, perdagangan, pajak dll harus saling bergandengan menjadi SATU sistem yang satu. Tiap kabupaten saling berhubungan membentuk Sistem Informasi Daerah Sumatera.

Setiap orang yang masuk dan keluar baik warga negara RI maupun warga negara Asing HARUS terdata dengan jelas. Tidak ada satu orang pun yang tidak terdata. Presiden pun kalau berkunjung harus memasukkan data yang dibutuhkan sejelas jelasnya.

Dengan konsep ini, maka terjadi kemudahan di banyak sistem seperti: data kependudukan/imigrasi, data kepemilikan, data pendapatan/penghasilan, data perpajakan, data pembelian, data perdagangan, dan lain-lain.

Apabila Pemerintah Pusat senang dengan hasil komputerisasi tersebut, Pemerintah Pusat boleh menggabungkan systemnya ke system yang telah kita bangun.

Visi & Misi diatas hanya contoh-contoh dari saya. Visi dan Misi yang sesungguhnya harus dirancang bersama sehingga terasa milik bersama. Dengan langkah-langkah diatas, Pulau Sumatera akan mampu mengejar ketinggalanya dan kemudian maju memimpin pembangunan Republik Indonesia seutuhnya.

Kalau bukan kita yang memulai siapa lagi.





KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Tidak ada komentar: